SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PENGADILAN AGAMA BARABAI
 

AL-UMURU BI MAQASHIDIHA (QAWAIDUL FIKIAH)

Al-Umuru bi Maqaashidihaa

الامور بمقاصدها[1]

Oleh: Muhammad Nafi, S.Pd.I., S.H.I.

 

A.    Pendahuluan

Qawaidul fiqhiyah[2] (kaidah-kaidah fiqih) adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi kebutuhan bagi kita semua. Akan tetapi tidak sedikit orang yang kurang memahami tentang hal ini, untuk itu perlu kiranya kita untuk mempelajari dan mengkaji ulang ilmu ini. Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqih kita akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqih, karena kaidah fiqih itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqih. Selain itu kita juga akan menjadi lebih arif dalam menerapkan fiqih pada waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus, adat kebiasaan, keadaan yang berlainan. Dengan mempelajari kaidah fiqih, diharapkan pada akhirnya kita juga bisa menjadi lebih moderat dalam menyikapi masalah-masalah politik, ekonomi, sosial, budaya sehingga kita bisa mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat dengan lebih baik.

Dalam makalah ini, penulis akan membahas tentang kaidah fiqih yang pertama, yaitu الامور بمقاصدها  (al-Umuru bi Maqasidiha). Kaidah ini membahas tentang kedudukan niat yang sangat penting dalam menentukan kualitas ataupun makna perbuatan seseorang, apakah seseorang melakukan perbuatan itu dengan niat ibadah kepada Allah dengan melakukan perintah dan menjauhi laranganNya. Ataukah dia tidak niat karena Allah, tetapi agar disanjung orang lain.

 

B.     Niat dan Urgensinya

Niat menjadi syarat mutlak bagi kita semua dalam segala aspek perbuatan, niat akan menentukan kualitas individu tertentu. Ini adalah sebuah hal mudah tapi tidak menutup kemungkinan orang selalu mengabaikan hal ini. Kajian ini akan membahas apa (ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiology) niat itu.

Kaidah ini berasal dari hadits terkenal:

2201 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ» (رواه البخارى و مسلم و غيرهما)

Artinya: "Sesungguhnya amal itu hanyalah beserta niat, dan setiap manusia mendapatkan apa-apa sesuai yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu." (HR. Bukhari No. 45, 163, 2392, 3685, 4783, 6311, 6553, Muslim No. 1907, At Tirmidzi No. 1698, Abu Daud No. 2201, Ibnu Majah No. 4227, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, No.181, 2087, 12686, 14773, Ibnu Hibban No. 388, 4868)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»  (رواه مسلم)

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada penampilan kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim No. 2564, dari Abu Hurairah)

Hujjatul Islam, Al Imam Al Ghazali Rahimahullah mengatakan:

وَإِنَّمَا نَظَرَ إِلَى الْقُلُوبِ لأَنَّهَا مَظِنَّةُ النِّيَّةِ ، وَهَذَا هُوَ سِرُّ اهْتِمَامِ الشَّارِعِ بِالنِّيَّةِ فَأَنَاطَ قَبُول الْعَمَل وَرَدَّهُ وَتَرْتِيبَ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ بِالنِّيَّةِ[3]

Artinya: “Sesungguhnya Dia melihat kepada hati lantaran hati adalah tempat dugaan niat, inilah rahasia perhatian Allah terhadap niat. Maka, diterima dan ditolaknya amal tergantung niatnya, dan pemberian pahala dan siksa juga karena niat.”

Oleh karena itu, jika ada dua orang saling membunuh, maka yang membunuh dan terbunuh keduanya masuk neraka. Hal ini lantaran keduanya sama-sama berniat untuk membunuh.

وَقَالَ ابْنُ عَجْلَانَ: لَا يَصْلُحُ الْعَمَلُ إِلَّا بِثَلَاثٍ: التَّقْوَى لِلَّهِ، وَالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ، وَالْإِصَابَةِ. وَقَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ: إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْكَ نِيَّتَكَ وَإِرَادَتَكَ[4]

Artinya: Ibnu Ajlan berkata bahwa tidak bernilai baik suatu amal yang dikerjakan kecuali memenuhi 3 (syarat): Taqwa kepada Allah swt., niat yang baik, dan bersungguh-sungguh. Fudhail bin Iyadh berkata: bahwasanya yang Allah inginkan dari kalian adalah niat dan kehendak (baik) kalian.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ المُبَارَكِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، وَيُونُسُ، عَنِ الحَسَنِ، عَنِ الأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ: ذَهَبْتُ لِأَنْصُرَ هَذَا الرَّجُلَ، فَلَقِيَنِي أَبُو بَكْرَةَ فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُ؟ قُلْتُ: أَنْصُرُ هَذَا الرَّجُلَ، قَالَ: ارْجِعْ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ» ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المَقْتُولِ قَالَ: «إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ» (رواه البخارى و مسلم(

Artinya: “Jika dua orang muslim masing-masing membawa pedang, maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka.” Aku (Abu Bakrah) bertanya: “Wahai Rasulullah, kalau yang membunuh iyalah, lalu kenapa yang terbunuh juga neraka?” Beliau bersabda: “Karena dia juga berhasrat untuk membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari No. 31, Muslim No. 2888)

Begitu pula orang yang menikah namun berniat tidak memberikan mahar, maka dia dinilai sebagai pezina. Begitu pula orang yang berhutang namun berniat tidak membayarnya, maka dia dinilai sebagai pencuri.



[1] Al-Syaikh Abdullah bin Said Muhammad Ibadi asy-Syahari, Idhoohi al-Qawaid al-Fiqhiyyah, (ttp: Haramain, 1968), h.12. Lihat juga Abd al-Hamid Hakiim, Mabadi’ Awwaliah, (Jakarta: Maktabah Saadiyah Putra, tth), h.x. Abd al-Hamid Hakiim, as-Sulam, (Jakarta: Maktabah Saadiyah Putra, tth), h.52. Lihat juga Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, al-Fawaidu al-Jiniyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), h.103. Jalal ad-Diin Abd ar-Rahman as-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazhair fi Qawaid wa Furu’ Fiqh asy-Syafii, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1979), cet I, h.8.

[2] Kaidah Fikih diartikan sebagai ketetapan yang menyeluruh yang mencakup bagian-bagiannya. (lihat al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifaat, (tt.,: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1983), h. 171.

قضية كلية منطبقة على جميع جزئياتها

Sedangkan  al-Ustadz Abu Zahrah mendefinisikan kaidah dengan kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada qiyas yang satu yang mengumpulkannya. (Lihat Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, (tt.,: Dar al-Fikr al-Arabi, tth), h.10.

مجموعة الاحكام المتشبهات التى ترجع الى قياس واحد يجمعها

[3] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Gazali, Ihya Ulumi ad-Diin, (Jakarta: Hidayah, 1996), Jilid 4, h. 351.

[4] Zainuddin abi al-Farj Abd al-Rahman bin Sihab ad-Diin bin Ahmad bin Rajab al-Hanbali al-Baghdadi, Jami’ al-Ulum w al-Hikam, (Beirut: Dar al-Fikr, 1992), h.12.

Total akses : 5862