SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PENGADILAN AGAMA BARABAI
 

TEORI TAWABI QAIDAH FIKIH

TEORI TAWABI’

التابع تابع[1]

Oleh: Muhammad Nafi, S.Pd.I., S.H.I.

 

A.    Pendahuluan

Kaidah fikiah merupakan kunci berpikir dalam pengembangan dan seleksi hukum fikih. Dengan bantuan kaidah fikh semakin tampak jelas hukum baru yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat dapat ditampung oleh syariat Islam dan dengan mudah serta cepat dapat dipecahkan permasalahannya.

Persoalan baru semakin banyak tumbuh dalam masyarakat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat itu sendiri. Maka diperlukan kunci berpikir guna memecahkan persoalan masyarakat sehingga tidak menjadi berlarut-larut tanpa kepastian hukum. Hal demikian dapat terjadi karena kaitan permasalahannya dengan dalil-dalil yang terdapat dalam Alquran dan Sunnah (hadis) Rasulullah semakin jelas kemana hubungannya. Pada makalah ini, penulis membahas tentang teori tawabi dalam kaidah fikih.

 

B.     Teori Tawabi’

Kaidah fikih yang diterima oleh semua aliran sunni adalah Majallah al-Ahkam al-Adliyah. Kaidah ini dibuat di abad XIX M oleh lajnah fuqaha usmaniah. Termasuk kaidah at-Taabi’u Taabi’un.

التابع تابع[2]

التابع adalah sesuatu yang tidak bisa berdiri sendiri, akan tetapi keberadaannya mengikuti adanya sesuatu yang lain. sedangkan تابع adalah sesuatu yang tidak bisa berdiri sendiri tersebut tidak memiliki hukum secara tersendiri akan tetapi hukumnya mengikuti pokok atau sesuatu yang diikuti.

Dari beberapa literature klasik tentang kaidah التَّابِعُ تَابِعٌ, tidak ditemukan nash al-Qur’an maupun hadith yang secara jelas dijadikan sebagai dasar kaidah ini. Namun ulama’ kontemporer mencoba mencarikan teks nash wahyu yang memiliki esensi yang sama dengan kaidah ini yang dapat dijadikan dasar kaidah. Abd al-Lathif ibnu Muhammad al-Hasan dalam tulisannya yang berjudul Dirasat fi al-Shari’ah wa al-Aqidah min al-Qawa’id al-Fiqhiyyah dalam majalah al-Bayan mencoba untuk memberikan teks nash  yang dapat dijadikan dasar kaidah ini.[3] Menurutnya, kaidah ini berdasar pada hadith:

حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن نافع عن عبد الله ابن عمر رضي الله عنهما : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن بيع حبل الحبلة وكان بيعا يتبايعه أهل الجاهلية وكان الرجل يبتاع الجزور إلى أن تنتج الناقة ثم تنتج التي في بطنها[4]

Pada dasarnya kaidah ini tanpa didasarkan pada nash  telah dapat difahami akal bahwa sesuatu yang mengikuti merupakan kesatuan dari yang diikuti, oleh karenanya tidak patut berdiri sendiri dari segi hukumnya.

Selain itu, jika dilihat dari sifat aghlabiyyah dalam kaidah fiqh yang terbentuk dari istiqra’ atas kesamaan pelaksanaan fiqh aghlabiyyah yang telah ada,[5] maka hal ini menunjukan bahwa dasar hukum pelaksanaan fiqh tersebut (khususnya mengenai furu’ kaidah ini) dapat dijadikan dasar kaidah ini.

Secara sederhana makna kaidah التَّابِعُ تَابِعٌ  adalah segala sesuatu yang berstatus sebagai pengikut (tabi’) secara hukum harus mengikuti pada sesuatu yang diikuti (matbu’).

Mengenai makna yang dikehendaki dalam kaidah ini tentang sesuatu yang mengikuti (tabi’), perlu kiranya identifikasi sesuatu yang dianggap sebagai tabi’:

1.        Menurut al-Zarqa, tabi’ merupakan sifat dan bagian (juz’) dari matbu’ yang tidak dapat dipisahkan.[6]



[1] Lihat A.Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih (Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis), ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 92. Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, al-Fawaidu al-Jiniyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), h.380. Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, al-Qawaidh al-Fiqhiyyah (Kaedah-Kaedah Praktis Memahami Fiqih Islami), (Gresik: Pustaka Al-Furqan, 2009), h. 212.

[2] Abd al-Hamid Hakiim, as-Sulam, (Jakarta: Maktabah Saadiyah Putra, tth), h.64. Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, al-Fawaidu al-Jiniyah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), h.380.

[3] Abd al-Lathif ibnu Muhammad al-Hasan, Dirasat fi al-Shari’ah wa al-Aqidah min al-Qawa’id al-Fiqhiyyah, dalam majalah al-Bayan edisi November 1999. (Maktabah Shamelah), jilid 143, h. 24.

[4] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Maktabah Shamelah), hadith no. 3026 dalam bab Jual Beli (Bay’).

[5] Muhammad Shidqi ibnu Ahmad al-Burnu, al-Wajiz, h. 18.

[6] Ahmad bin Muhammad al-Zarqa, Sharh al-Qawa’id al-Fiqhiyyah, h. 144.

Total akses : 1158