SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PENGADILAN AGAMA BARABAI
 

Kaidah-Kaidah Fiqh Yang Mukhtalaf Alaih

Kaidah-Kaidah Fiqh Yang Mukhtalaf Alaih

Oleh: Muhammad Nafi, S.Pd.I., S.H.I.

 

A.    Pendahuluan

Belakangan ini seringkali kita saksikan sekelompok kaum beragama, atas nama agama telah men-sesatkan, bahkan memandang kufur kelompok lain yang seagama. Fenomena al-idhlal (penyesatan) dan al-takfir (pengkafiran) ini akan terus menggelinding di tengah-tengah masyarakat.

Dalam sebuah kaidah fikih dikatakan "la yunkaru al-mukhtalafu fihi wa innama yunkaru al-muttafaq 'alaih"/pandangan lain yang masih diperselisihkan ulama tidak boleh serta merta diingkari, berbeda dengan pandangan yang telah disepakati ulama maka kita boleh mengingkari pandangan sebaliknya. Sementara itu hampir seluruh ulama sepakat bahwa ajaran yang mukhtalaf fihi jauh lebih banyak dari ajaran yang muttafaq 'alaih. Ini artinya wilayah takfir dan idhlal dalam ajaran Islam sangatlah sempit, tidak mudah untuk mengkafirkan dan memandang sesat pihak lain.

Problem kita adalah tidak adanya kesepakatan di kalangan ulama tentang ajaran yang masuk dalam katagori mujma' 'alayhi dan mana yang mukhtalaf fihi. Akibatnya tidak ada standard baku atas dasar apa seseorang dapat dipandang kafir dan sesat. Perbedaan di luar masalah tersebut berlaku kaidah, "pendapat kita benar tapi mungkin saja salah dan pandangan orang lain salah tapi juga mungkin benar" dan kaidah ikhtilafu ummati rahmatun. Inilah toleransi keberagamaan yang pernah dicontohkan dengan cantik oleh ulama salaf al-shalih. Dalam menyikapi satu kasus permasalahan dalam menerapkan kaidah mukhtalaf ini sesuai dengan pendapat yang dianggap lebih unggul dari kedua sisi kaidah yang ada.

Oleh karena itu, makalah ini mencoba untuk membahas tentang kaidah-kaidah fiqh yang mukhtalaf , untuk memudahkan dalam rangka mengetahui khilaf-khilaf ulama ini adalah dengan mempelajari kaidah mukhtalaf ini. Karena kaidah ini sebenarnya adalah paket khusus pembahasan sebagian khilaf mereka.

 

B.     Pembahasan

Kaidah al mukhtalaf adalah kaidah yang berbentuk pertanyaan pada satu tema tertentu dengan dua jawaban atau lebih. Satu permasalahan yang seharusnya mempunyai jawaban yang pasti, ternyata di sana di temukan jawaban yang beragam. Disinilah letak keunikan kaidah muktalaf. Disebut mukhtalaf karena kaidah ini adalah kaidah yang subtansinya dikhilafkan dalam madzhab Syafi’i.

Imam Jalaludin al-Suyuthi (w.911 H) dalam kitabnya, al-Asybah wa al-Nazhair, menyebutkan bahwa ada 20 kaidah yang masih terdapat perbedaan pendapat para ulama.[1]

Ketika mengaplikasikan kaidah-kaidah al-mukhtalaf ke dalam sebuah permasalahan, dengan tanpa menjelaskan predikat hukum mana yang lebih kuat dari dua sisi kaidah yang berbeda. Sebagian lagi, ada yang lebih kreatif dengan melakukan proses tarjih. Kekreatifan ini diteruskan pada saat menyikapi permasalahan lain dengan menerapkan kaidah dalam satu permasalahan yang sama dengan tinjauan sisi kaidah yang lain.

Seperti halnya ketika menanggapi pertanyaan pancingan yang terdapat dalam kaidah mukhtalaf pertama; apakah fardhu kifayah akan menjadi fardhu ‘ain ketika telah dilaksanakan? Ini adalah satu contoh penerapan kaidah yang berbentuk pertanyaan dengan tampilan dua jawaban yang berbeda. Sementara permasalahan yang dicoba untuk diangkat dalam kaidah adalah sama; yaitu seputar apakah fardlu kifayah akan menjadi fardlu ‘ayn ketika tengah dilaksanakan.

Respon jawaban yang berbeda walaupun berasal dari pertanyaan yang sama ini, muncul karena tinjauan masing-masing berbeda satu sama lain. Dengan bentuk ini salah satu manfaat yang dapat kita petik adalah kita dapat mengetahui kapan fardlu kifayah menjadi fardlu ‘ayn dan dalam kasus apa saja sebuah konstruk fardlu kifayah tidak berubah setatusnya menjadi bagian dari ibadah fardlu ‘ayn.

Dan dalam catatan pengembaraan eksperimen (istiqra’)hanya terdapat dua puluh kaidah mukhtalaf yang dapat kita lacak dalam kitab-kitab syafi’iyyah. Sekadar untuk diketahui, dan untuk memudahkan kita dalam mendalami kaidah fiqh maupun fiqh secara langsung, dalam literature kitab-kitab fiqh klasik akan dijumpai satu permasalahan tetapi terdapat berbagai varian jawaban. Seperti yang terdapat dijumpai dalam kitab mahalli. Di sana, kita dapat menemukan satu latar masalah dengan varian jawaban yang beragam. Bahkan kita dapat menjumpai sampai empat jawaban yang sama sekali berbeda antara satu dengan yang lain. Salah satu tawaran alternative untuk memudahkan dalam rangka mengetahui khilaf-khilaf ulama’ ini adalah dengan mempelajari kaidah mukhtalaf ini. Karena kaidah ini sebenarnya adalah paket khusus pembahasan sebagian khilaf mereka.

Untuk mengetahui esensi kaidah-kaidah mukhtalaf ini dengan mudah, kita perlu mengetahui beragam istilah yang dikenal dengan qawl, wajh, qawlani, wajhani, dan sebagainya. Beberapa kosa kata ini merupakan petunjuk praktis untuk mengetahui dimana pendapat tersebut diungkapkan, siapa yang menyampaikan sekaligus derajat kekuatannya sebagai pijakan hukum.

Yang perlu kita ketahui pertama kali, pengertian qawl berlainan dengan istilah wajh. Walaupun keduanya sama-sama berarti pendapat, namun dalam literature fiqh terdapat perbedaan prinsip di antara keduanya. Qawl adalah apa yang pernah ditulis atau difatwakan Imam al-Syafi’I, yang pada akhirnya akan terbagi menjadi dua, yaitu qawl qadim dan qawl jadid.

Yang perlu diingat lagi adalah, bahwa qawl dan wajh juga akan terpilah kedalam pelbagai bentuk istilah. Dengan mengenal nama-nama yang berbeda ini, secara otomatis akan member pengertian yang berbeda pula. Beberapa istilah yang sering digunakan di dalam kaidah-kaidah mukhtalaf adalah:

1.      Al-Ashah: adalah pendapat yang paling valid diantara kualifikasi pendapat-pendapat lain dan pembandingnya dikenal dengan istilah al-shahih.

2.      Al-Azhhar: pendapat yang kevalidannya di atas al-shahih dal al-zhahir. Dalam pendapat jenis ini, kejelasan ashl dan ‘illatnya atau salah satu dari keduanya kuat.

3.      Al-Shahih Adalah pendapat yang ashl dan ‘illat atau salah satu dari keduanya benar.

4.      Al-zhahir digunakan untuk menamakan pendapat yang ashl, illat atau salah satu dari keduanya jelas.

5.      Al-Mu’tamad adalah pendapat dalam permasalahan hukum tertentu yang di jadikan pegangan bagi ‘ulama yang mendukungnya, walaupun pendapat ini sangat mungkin dinilai sebagai pendapat yang lemah bagi ulama’ yang lain.

 

C.    Kaidah-Kaidah Mukhtalaf

Kaidah-kaidah yang mukhtalaf, artinya kaidah-kaidah yang masih diperselisihkan, dan tarjihnya juga tidak sama. Terkadang juga ada cabang yang diperselisihkan tapi hanya sebagian, atau karena masing-masing mempunyai dalil yang tidak dapat dikesampingkan. Dan kaidah-kaidah yang seperti ini jumlahnya ada dua pulah, yaitu:

1.      Kaidah ke 1

الجمعة ظهر مقصورة او صلاة على حيالها قولان[2]

Shalat jum’at shalat zhuhur apakah yang diringkas ataukah shalat yang yang berdiri sendiri? Terdapat dua pendapat.

Dalam ranah kajian fiqh, Imam syafi’i melontarkan dua statemen yang berbeda mengenai status shalat jum’at. Menurut statemen awal (qawl qadim), shalat jum’at merupakan shalat dzuhur yang di ringkas rakaatnya menjadi dua. Sedangkan menurut statemen yang kedua (qawl jadid), shalat jum’at merupakan shalat yang berdiri sendiri.

Pendapat yang lebih shohih (ashoh) dalam permasalahan ini adalah bahwa sholat jum'at merupakan sholat yang berdiri sendiri, meskipun dikerjakan pada waktu sholat dhuhur, dengan berdasarkan ketentuan hukum bahwa orang yang kewajiban sholat jum'at tidak bisa ditinggalkan dengan hanya mengerjakan sholat dhuhur. Pendapat ini juga didasarkan pada sebuah hadits ;

عَنْ عُمَرَ، قَالَ: صَلَاةُ السَّفَرِ، وَصَلَاةُ الْفِطْرِ، وَصَلَاةُ الْأَضْحَى، وَصَلَاةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم

'Dari Umar ia berkata, "Shalat dalam keadaan bepergian, sholat hari raya idul fitri, sholat hari raya idul adhha dan sholat JUMAT itu dua raka'at, sempurna tanpa meringkas sebagaimana sabda nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam". (Shohih Ibnu Hibban, no.2783)


[1] Lihat al-Suyuthi, al-Asybah wa-Nazhair fi Qawaid wa Furu’ Fiqh al-Syafii, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1979), h. 180. Sebagaimana dikutip oleh. A. Jazuli, Kaidah-Kaidah Fikih (Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), cet ke-4, h.196.

[2] Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, al-Fawaid al-Jinniah Hasyiah al-Mawahib al-Saniyyah Syarh al-Faraid al-Bahimiyyah fi Nazhmi al-Qawaid al-Fiqhiyyah (fi al-Asbaahu wa al-Nazhair ‘ala Mazhab al-Syafii), (Beirut: Dar al-Fikr, 1997), h. 610.

Total akses : 3484